Kontroversi UN buah dari ke-TIDAKJUJUR-an

UN adalah salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk melihat sejauhmana prestasi belajar siswa, dan hasilnya digunakan untuk membuat peta program kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah. Tapi mengapa dalam pelaksanaanya UN banyak menimbulkan berbagai masalah?. Ada yang mengatakan bahwa UN jangan dijadikan “satu-satunya” syarat kelulusan, ada juga yang mengatakan bahwa UN tidak adil, karena tidak memperhatikan kondisi sarana prasarana pendidikan di sekolah.

Penilaian pendidikan merupakan tanggungjawab Pemerintah dan sekolah, dalam hal ini Pemerintah menggunakan 4 mata pelajaran untuk mengukur sejauhmana keberhasilan pendidikan dapat berhasil, penilaian ini disebut UN, dan sekolah menggunakan 10 atau 11 mata pelajaran yang lain untuk mengukur keberhasilan pendidikan, penilaian ini disebut US.

UN adalah salah satu syarat supaya siswa dapat dinyatakan lulus dari sekolah dan siswa berhak mendapatkan ijazah. Sesuai peraturan ada 4 syarat yang harus dicapai oleh siswa supaya bisa dinyatakan lulus dari sekolah yaitu:

  1. Siswa sudah menyelesaikan semua program pembelajaran
  2. Siswa mempunyai nilai baik pada akhlak dan kepribadian
  3. Siswa lulus US
  4. Siswa lulus UN

Terlihat bahwa UN bukanlah satu-satunya syarat kelulusan siswa, tapi mengapa dalam pelaksanaannya UN selalu menimbulkan kontroversi? Mengapa pelaksanaan US tidak menimbulkan kontroversi? Apakah karena hasil US dapat “dikotak-katik” dengan gampangnya? Sedangkan hasil UN tidak bisa diapa-apakan lagi.

Soal UN dibuat oleh pemerintah, dilaksanakan oleh sekolah, dan hasil jawaban siswa diperiksa oleh pemerintah dan sekolah hanya menerima hasil UN siswa apa adanya. Sedangkan soal US dibuat oleh guru mata pelajaran sekolah yang serumpun, dilaksanakan dan diperiksa oleh sekolah masing-masing, sehingga nilai siswa yang dibawah standar dapat dengan mudah dikatrol untuk dapat lulus.

Apabila/seandainya sekolah sebagai pelaksana UAS yang terdiri dari UN dan US dalam melaksanakan UN dan US secara jujur dan apa adanya, mungkin akan membawa dampak positif pada dunia pendidikan dimasa yang akan datang. Dampak positif tersebut diantaranya:

  1. Kebijakan yang mungkin akan dilaksanakan oleh pemerintah pusat bisa lebih terarah dan tepat sasaran.; a) Kasus selama ini apa yang telah diprogramkan oleh pemerintah baik untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan profesionalisme guru, peningkatan sarana dan prasarana banyak yang tidak tepat sasaran dan tidak terarah. b) Program BERMUTU, DBE, LESSON STUDY dan masih banyak lagi, pesertanya banyak yang itu-itu juga. c) Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan banyak yang jatuh ke sekolah yang sekolahnya berani mengeluarkan biaya “buka jalan”, walaupun ada sekolah yang lebih membutuhkan.
  2. Memacu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah supaya lebih maksimal sesuai dengan teori/metode/strategi/ pembelajaran.; a)Kasus selama ini guru yang mengajar terutama kelas akhir mempunyai pemikiran “ah pasti anak akan lulus”, terlepas apakah anak tersebut pintar atau tidak. Seakan-akan teori belajar yang menyatakan bahwa siswa bersifat unik, ada yang pintar ada yang kurang pintar, sama saja padahal yang kurang pintar tentu membutuhkan waktu relatif lebih lama dari yang pintar dalam proses pembelajarannya. Dan ini berimbas pada guru yang mengajar di kelas tingkat yang lebih rendah.
  3. Memacu motivasi siswa untuk lebih berprestasi dan giat dalam belajarnya.; a) Kasus ada siswa yang berpikiran bahwa nanti dia akan lulus walaupun tanpa belajar, siswa tersebut melihat dan mendengar dari para alumni (alumni entah dari siapa?). Kenyataannya dari beberapa tahun ke belakang banyak sekolah yang siswanya lulus 100% dan ada alumni yang mendapat nilai 10 pada mata pelajaran yang di-UN-kan, sementara dalam sehari-hari siswa tersebut dikatagorikan rata-rata.

Kesimpulan:
UN bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan asalkan dilaksanakan secara jujur. Pendidikan mengajarkan kita untuk berbuat jujur, dan mendidik kita untuk cerdas dan pintar. Mengapa kita tidak berani untuk berbuat kejujuran? Apakah sengaja,? supaya generasi penerus tetap menjadi generasi kuli?

Pos ini dipublikasikan di kontroversi UN dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kontroversi UN buah dari ke-TIDAKJUJUR-an

  1. firman berkata:

    wiuhhhh UN euyy
    tapi apakah nilai kejujuran terpancar dari UN yang sudah terlaksana pak?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s