PEMBELAJARAN YANG TIDAK EFEKTIF PENYEBAB PRESTASI BELAJAR RENDAH

Kita tentu akan merasa bahagia, apabila dalam melaksanakan pembelajaran di kelas dalam keadaan yang sesuai dengan keinginannya. Siswa duduk dengan rapi, baik seragam, tempat duduk, lantai yang bersih, dan tentunya kebahagian kita akan bertambah apabila diakhir pembelajaran, pembelajaran yang telah dilaksanakan berhasil. Keberhasilan pengajaran yang telah dilaksanakan tentunya tergambar dari prestasi belajar siswa itu sendiri. Selain kita, siswa pun akan merasa senang, apabila mereka mendapat nilai yang tinggi, mereka akan bersorak, bahkan mungkin meloncat-loncat dan berjingkrak-jingkrak.

Hasil pembelajaran yang demikian itu tentunya menjadi dambaan semua guru dan siswa, dan memang salah satu tujuan pendidikan menuntut seorang peserta didik (siswa) supaya memiliki kecerdasan dan keterampilan. Kecerdasan dan keterampilan yang dimiliki oleh siswa diperoleh pada saat siswa tersebut mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Kecerdasan dan keterampilan dari seorang siswa biasanya diwujudkan dalam suatu bentuk nilai atau angka.

Seorang siswa tentu akan merasa senang dan bahagia apabila mereka mendapatkan nilai yang tinggi. Jika seorang siswa mendapat nilai lebih dari 8,0 siswa tersebut dikategorikan seorang yang cerdas dan dikatakan prestasi belajarnya tinggi. Jika siswa mendapat nilai antara 6,0 – 7,0 siswa tersebut dikategorikan cukup atau prestasi belajarnya cukup. Tetapi sebaliknya jika siswa mendapat nilai kurang dari 6,0 siswa tersebut dikategorikan kurang cerdas atau prestasi belajarnya rendah.

Kenyataan yang masih banyak ditemui, dalam suatu proses belajar mengajar, prestasi belajar siswa masih banyak yang rendah, hal ini bisa dibuktikan dengan nilai yang mereka peroleh pada saat mereka telah menyelesaikan tes. Hasil tes mereka masih banyak yang dibawah standar. Hasil tes ini setidaknya mencerminkan seberapa jauh daya serap mereka terhadap materi pelajaran yang diterimanya.

Prestasi belajar siswa yang rendah bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya; (1) semangat belajar siswa yang kurang, (2) sarana belajar kurang, (3) penggunaan metode mengajar yang tidak efektif dan variatif, dan (4) guru kurang bersemangat dalam mengajarnya. Seperti obrolan saya dengan salah satu rekan guru dalam suatu kesempatan, ia mengatakan “kenapa ya nilai siswa saya banyak yang rendah, banyak yang nilainya dibawah KKM?, sepertinya mereka tidak punya semangat untuk belajar, padahal saya sangat bersemangat sekali dalam mengajar mereka.”. “ah, masa sih” jawab saya. “apa bukan karena sarananya yang kurang? atau mungkin metode belajarnya banyak ceramah?”. Mendengar jawaban saya, ia hanya tersenyum saja.

Susasana belajar tentu akan berhasil, apabila siswa mempunyai semangat dan termotivasi untuk belajar, dan guru pun tentunya juga bersemangat dalam mengajar siswa, apalagi sarana belajarnya lengkap dan proses pembelajaran suasananya menyenangkan.
Siswa yang tidak bersemangat dalam belajarnya, akan terlihat dari aktifitas ia dalam belajar, ia terlihat malas-malasan, sering ngobrol dengan temannya, perhatian tidak fokus ke pelajaran, membuka buku tapi bukan buku yang sedang dipelajari, tidur di kelas, sibuk sendiri dengan HP-nya, atau bahkan siswa tersebut pandangannya kosong.

Dalam mengajar pun seorang guru tentu mempunyai kemampuan terbatas untuk mempertahankan semangat mengajarnya. Pada awal tentunya dengan energi yang masih full, ia akan mempunyai semangat yang tinggi, suaranya menggebu-gebu, bahkan kadang-kadang lupa bahwa didepannya masih ada siswa terbengong-bengong. Ia terus berceramah layaknya seorang orator ulung bahkan melebihi oratornya ‘Soekarno’. Tetapi di akhir pembelajaran atau pada jam-jam terakhir energi sudah mulai turun, semangat jadi kendor, bahkan semakin putus asa manakala begitu ia bertanya pada siswanya, siswa tidak bisa menjawab apa-apa. Kadang-kadang karena saking semangatnya selama pembelajaran waktunya digunakan untuk ceramah, lupa masih ada sarana pembelajaran (alat dan bahan praktek) di atas meja yang belum terjamah.

Proses pembelajaran akan menyenangkan apabila seorang guru menerapkan prinsip “PAIKEM”. Proses belajar yang menyenangkan tentu akan menimbulkan suasana belajar yang sejuk, santai, siswa tidak terasa tertekan, mereka bebas mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya dalam proses belajarnya. Guru pun tentunya tidak mengeluarkan energi yang banyak, waktunya bisa digunakan untuk mengamati siswanya, apakah mereka belajar?, bagaimana mereka belajar?. Guru bisa membantu siswa yang kesulitan dalam belajar, memberi arahan kalau siswa menyimpang dari apa yang telah menjadi tujuan pembelajaran.

Prestasi belajar siswa akan meningkat apabila dalam proses pembelajaran, seorang guru bisa menerapkan metode pembelajaran yang menumbuhkan motivasi siswa belajar, dan bisa mengakomodasi gaya belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM). Menurut saya hal tersebut bisa terwujud apabila kita menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan variatif. Metode pembelajaran ini diantaranya pembelajaran Contextual Teaching Learning, atau Cooveratif Learning. Kita bisa menggabungkan beberapa metode pembelajaran dalam suatu kegiatan belajar mengajar, dengan adanya variasi metode pembelajaran suasana belajar menjadi menyenangkan dan diharapkan siswa memperoleh prestasi belajar yang tinggi.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke PEMBELAJARAN YANG TIDAK EFEKTIF PENYEBAB PRESTASI BELAJAR RENDAH

  1. vivie berkata:

    thanx for artikel…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s